SEMINAR NASIONAL dalam rangka HUT ke-10 Perpustakaan Kemdikbud

SEMINAR NASIONAL
dalam rangka HUT ke-10 Perpustakaan Kemdikbud dan Hari Guru 2014
PERAN PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN
KUALITAS GURU DI SEKOLAH

Berbicara tentang perpustakaan sekolah, maka terdapat gambaran umum bahwa perpustakaan sekolah tidak lebih dari sekedar tempat penyimpan buku-buku tua, yang tidak menarik untuk dibaca murid-murid. Lokasi penempatan ruang perpustakaan berada agak terpencil di sudut sekolah. Petugas yang melayani pengunjung adalah pegawai yang tidak memiliki latar belakang keilmuan perpustakaan. Data menunjukkan bahwa hanya 6% perpustakaan sekolah di Indonesia yang memiliki pegawai berlatar belakang keilmuan perpustakaan. Demikian kondisi memprihatinkan tentang perpustakaan sekolah di Indonesia sebagaimana disampaikan oleh M. Ihsanudin, M.Hum, Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Indonesia (ATPUSI) dalam Seminar Nasional Peran Perpustakaan Nasional dalam Meningkatkan Kualitas Guru di Sekolah.
Lebih lanjut Ihsanudin menyampaikan bahwa banyak guru di sekolah kesulitan mencari data dan informasi. Tidak sedikit guru kebingungan mencari informasi/sumber belajar karena belum memiliki kemampuan mencari informasi (information literacy). Selain itu, tidak sedikit “guru malas” atau “tidak terbiasa” mencari informasi, sehingga materi yang diajarkan “miskin” data dan informasi (lack of data and information or reference). Mencari data dan informasi belum menjadi sikap kerja atau budaya yang inheren dalam diri sebagian guru kita. Demikian pula kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading literacy) pada sebagian guru masih terbilang rendah.
Sementara, trend perkembangan masyarakat dunia terus bergerak. Bermula dari agriculture society, bergerak menuju industrial society, selanjutnya bergerak menuju information society. Dan masih ada dua trend yang sedang atau akan dilewati oleh masyarakat dunia, yakni knowledge society dan innovation society. Bila masyarakat sebuah negara mampu berada pada posisi innovation society, maka merekalah yang berhasil menguasai dunia. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mampu mengikuti trend ini, akan tertinggal dan menjadi korban atas ketertinggalannya. Pertanyaannya, sekarang masyarakat kita berada pada posisi trend yang mana ?
Di sisi lain, Pemerintah telah menggulirkan Kurikulum 2013 dengan visi mewujudkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam aplikasinya kurikulum 2013 mengedepankan pengalaman personal melalui model pembelajaran saintifik yakni mengamati, menanya, menalar, dan mencoba [observation based learning] untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Disamping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning. Pada hakekatnya bahwa kurikulum 2013 yang dikembangkan saat ini akan berupaya mengantarkan anak-anak Indonesia menyongsong menjadi knowledge society dan innovation society
Ada kesenjangan antara trend perkembangan masyarakat dunia dengan fakta yang ada di pendidikan negara kita. Oleh karenanya pemerintah menerapkan model Pembelajaran Saintifik 5M (Mengamati, Menanya, Mencoba, Menalar dan Mempresentasikan) untuk menjawab tantangan ke depan menuju knowledge society dan innovation society . Mengatasi kesenjangan tersebut, perpustakaan sekolah memiliki peran besar membantu para guru untuk menjadikan murid-muridnya manjadi penemu-penemu muda yang mampu mempresentasikan hasil penemuannya di depan kelas. Model pembelajaran ini membutuhkan data dan informasi yang kaya dan mendalam.
Berangkat dari persoalan tersebut, perpustakaan sekolah mesti berbenah, mengubah paradigmanya. Ihsanudin mengatakan bahwa ada 8 peran perpustakaan dalam melayani penggunanya. Pertama; Perpustakaan sebagai resource agent, yakni perpustakaan harus dapat menyediakan koleksi yang memenuhi kebutuhan kurikulum, menawarkan berbagai koleksi/informasi yang up to date dengan berbagai pilihan. Selain itu petugas perpustakaan yang biasa disebut pustakawan harus mampu melakukan bimbingan dalam pencarian informasi/koleksi serta mengajarkan cara-cara memanfaatkan informasi/koleksi secara efektif.
Kedua; Literacy Development Agent, yakni Pustakawan harus dapat mengajarkan tentang information literacy yang meliputi strategi pencarian informasi (Information seeking strategies), keterampilan menggali informasi, keterampilan menformulasikan query (simple search & advanced search) dan keterampilan memanfaatkan informasi untuk penyelesaian tugas-tugas pembelajaran (problem solving), bahkan memecahkan berbagai persoalan hidup.
Ketiga; Knowledge Construction Agent, yakni Pustakawan harus mampu mengajarkan tentang tahap-tahap mengkonstruksi (membangun) pengetahuan dengan pemanfaatan literatur/koleksi dalam pembelajaran yang biasa disebut Information Literacy. Selanjutnya pustakawan harus mampu mendidik siswa agar mampu menemukan pengetahuan baru dan memahami pengetahuan baru tersebut melalui proses selecting, compare, extract, analyze, synthesize, dll.
Keempat; Academic Achievement Agent, yakni pustakawan dapat memfasilitasi guru dalam melakukan penelitian, penulisan ilmiah dan publikasi karya tulis ilmiah. Pustakawan menfasilitasi penyelesaian tugas-tugas pengajaran yang diperlukan guru, seperti penyediaan buku referensi, buku pengayaan, dan fasilitas internet serta ruangan yang kondusif yang nyaman di perpustakaan.
Kelima; Independent Reading and Personal Development Agent, yakni Perpustakaan membentuk budaya baca, sehingga tertanam dalam diri setiap penggunanya budaya baca secara mandiri (Reading literacy, lifelong reader). Pustakawan mengajarkan teknik membaca efektif, seperti SQ3R, Skimming, Scanning dan Speed Reading. Perpustakaan membentuk kepribadian/kompetensi sesuai minat, bakat dan kemampuan diri para penggunanya dengan menyediakan bahan bacaan variatif, mulai bahan bacaan ringan/ menyenangkan (pleasure reading), hingga bahan bacaan serius (knowledge reading).
Keenam; Technological Literacy Agent, yakni Perpustakaan mengenalkan teknologi informasi kepada penggunanya. Perpustakaan menyediakan berbagai media dan software pembelajaran. Agar teknologi ini jelas manfaatnya, tentu pustakawan harus mengajarkan cara-cara menggunakan teknologi informasi tersebut pada penggunanya. Kesemuanya bertujuan agar pembelajaran mereka lebih hidup dan menarik.
Ketujuh; Rescue Agent, yakni perpustakaan menjadi rujukan penanganan “Unit Gawat Darurat” (UGD) bila siswa/guru mengalami “Information Crises” (kepanikan informasi) . Misalnya: siswa/guru membutuhkan informasi cepat, siswa/guru panik karena sumber yang dia cari tidak ditemukan atau siswa/guru bingung begitu banyak informasi yang tidak relevan (information overload). Maka, datanglah ke perpustakaan segera, seluruh persoalan kebutuhan informasi akan terpenuhi.
Kedelapan; Individualized Learning Agent, yakni pustakawan menjadi tempat para pengguna bertanya untuk mengatasi kesulitan-kesulitannya di perpustakaan. Perpustakaan mesti memiliki layanan reference desk dan pustakawan adalah seorang subject specialist yang handal. Pustakawan menjadi advisor (penasehat/penunjuk jalan) bagi para penggunanya untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, menilai informasi, dan memanfaatkan informasi itu untuk menyelesaikan tugas-tugas atau mengatasi berbagai masalah.
Seminar ini diperkaya sumbang pemikiran nara sumber kedua, Shabry Aliaman, Kepala Pusat Pengembangan SDM Kebudayaan. Beliau memberi judul makalahnya “Warisan Budaya, Koleksi Perpustakaan yang melimpah”. Pesan yang diutarakan beliau adalah semua guru mesti memahami dan mengeksplorasi budaya setempat, sebab ujung pendidikan adalah budaya yang menjadi tradisi. Oleh karenanya perpustakaan semestinya memperkaya koleksinya dengan warisan budaya terutama budaya lokal yang dekat anak didiknya di sekolah. (Ruli Rusafni)

[image_carousel images=”285″ amount=”3″ nav_align=”no-nav” wrap=”circular” link_images=”none”]