SMP Islam Al Azhar  1 mempunyai sejarah panjang. Hal ini berawal dari gairah sekelompok orang yang memiliki komitmen terhadap pendidikan sekaligus tegaknya akidah Islam. Mereka ingin mendirikan semacam pusat pendidikan Islam yang berbasis di kota baru Kebayoran ( sekarang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ) tepatnya di Masjid Agung Al-Azhar sekarang.

Sebelum ada lembaga-lembaga pendidikan formal Al-Azhar, pertama kali  digagas berdirinya Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar ( YPI ) Al-Azhar pada tanggal 7 April 1952. Adapun tugas pokoknya adalah membangun masjid. Ada beberapa tokoh penggagas YPI Al- Azhar, antara lain; Soedirdjo, Tan In Hok, Gosali Shahlan, Syuaib Sastradiwirya, Abdullah Salim, Rais Chamis, Kartapraja, Hariry Hadi, Sardjono, Sulaiman Rasyid, Faray Martak, Yacob Rasyid, dan Hasan Arqubi.

Nama “Al-Azhar” muncul balakangan terkait dengan kunjungan seorang tokoh Islam  dari Timur Tengah yaitu Syekh Al-Azhar Mesir ( Prof. Dr. Mahmud Shaltout ) pada tahun 1961 di Jakarta. Dalam kesempatan kunjungannya ke Masjid Kebayoran Baru ( sebelum namanya menjadi Masjid Agung Al-Azhar ), Buya Hamka meminta Syekh Syaltout memberi nama untuk masjid yang tergolong megahdi ibu kota saat itu. Syekh Syaltout memenuhi permintaan tersebut dan memberinya nama “Al-Azhar” mengambil nama Universitas di Kairo, Mesir. Nama ini kemudian disandang hingga kini dan menjadi hak paten bagi Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar.

Dalam perjalanannya, tumbuh sikap keprihatinan terhadap lemahnya bidang pendidikan bagi umat, merosotnya kehidupan ekonomi, sekaligus rendahnya pemahaman terhadap Islam secara kaffah. Sejak itu bidang pendidikan mulai dijamah dan dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan tidak lepas dari posisi masjid yang sejak awal tahun 1960-an telah menjadi subsentra keIslaman dalam bentuk kegiatan pendidikan nonformal yang dinamakan Madrasah Diniyyah ( sekolah sore ) dan pendidikan ini masih berjalan hingga sekarang. Beberapa tokoh yang intensif terlibat dalam pendidikan nonformal ini antara lain; HAMKA, seorang ulama dan sastrawan, pengarang novel Di Bawah Lindungan Ka’bah,  juga cendekiawan  muslim Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Buya Hamka tampil sebagai imam besar Masjid Agung Al-Azharsekaligus Ketua YPI Al-Azhar

dankemudian dikenal sebagai Ketua Majlis Ulama ( MUI ) yang pertama dan berkantor di lingkungan Masjid Agung Al-Azhar. Dari lingkungan masjid inilah embrio pendidikan formal kemudian dilahirkan.

Pada tahun 1964 pendidikan formal pertama didirikan, yaitu TK Islam Al-Azhar dan SD Islam Al-Azhar. Setelah memperhatikan kebutuhan masyarakat ibu kota akan pentingnya pelayanan pendidikan lanjutan, maka pada tahun 1971 YPI Al-Azhar mendirikan Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) Islam Al-Azhar di lingkungan yang sama, yaitu Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menempati sebuah bangunan dua lantai cukup megah untuk ukuran pada zamannya.

Seperti lazimnya suatu lembaga baru yang dibangun dalam bentuk swakarya tidak langsung melejit dulu. Jumlah murid SMP Islam Al-Azhar pusat awal dibuka hanyalah 23 murid, tetapi secara bertahap terus meningkat dari tahun ketahun. Pada tahun ketiga tercatat kelas 1 dan 2 berjumlah 96 murid, sedangkan kelas 3 berjumlah 12 murid. Ini adalah tahun perdana SMP Islam Al-Azhar mengikuti EBTANAS dan lulus 100%. Adapun jumlah guru dan karyawan pada tahun pertama sebanyak 7 orang, lalu bertambah menjadi 11 orang, dan 16 orang pada tahun ketiga.

SMP Islam Al-Azhar ternyata berkembang sangat cepat, terbukti pada tahun 1975 jumlah murid tidak lagi tertampung dalam satu ruang belajar sehingga harus membuka kelas paralel untuk jumlah 207 murid. Yang menjadi dorongan utama bagi para pengajar dan pengurus yayasan untuk memajukan sekolah ini adalah kecintaan, yakni ghirah atau semangat berdakwah dengan mneyalurkan ilmu dan mendidik putra-putri bangsa dengan nilai-nilai mulia Islam. Kepercayaan dari masyarakat terus mengalir deras karena yayasan ini disadari telah menjadi milik umat. Tahun demi tahun sekolah ini tidak henti-hentinya melakukan perubahan kearah yang lebih maju sesuai tuntutan zaman dengan berbagai inovasi. Kini SMP Islam Al- Azhar tersebar luas di seluruh wilayah DKI Jakarta dan di beberapa daerah di Indonesia sebagai sekolah-sekolah pilihan masyarakat luas, bukan saja SSN ( Sekolah Standar Nasional ) predikat yang disandangnya, bahkan SBI ( Sekolah Bertaraf Internasional ) antara lain dengan diselenggarakannya program pembelajaran Bilingual. Sejak tahun 2001 sekolah ini tergabung dalam sekolah-sekolah koalisi regional di kawasan Asia Tenggara.

SMP Islam Al-Azhar terus membangun kerjasama dalam berbagai kegiatan sekolah di luar negeri maupun dalam negeri dengan cara mengadakan pertukaran pelajar atau studi banding, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta.  SMP Islam Al-Azhar 1 terus melakukan

terobosan-terobosan baru  dengan mengadakan kegiatan Sister School  dengan Taiwan dalam program ASEP (Asian Student Axchange Programe) sampai sekarang. Pengiriman duta festival seni ke Paris  dan  Turki. Studi banding OSIS dengan sekolah Islam di Singapura,Thailand, dan Malaysia. Mengikuti Jambore di Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, dan Australia. Pada  2 Maret 2009  SMP Islam Al-Azhar 1 telah mendapatkan anugerah berupa ISO 9001-2008. Untuk meningkatkan rasa bersyukur dan meningkatkan ketaqwaan para murid kelas IX, sekolah juga melaksanakan program Umroh bersama. Hal ini dilakukan agar SMP Islam Al- Azhar 1 tidak ketinggalan dengan sekolah-sekolah lain.Semoga dengan kegiatan kegiatan akademik dan spiritual tersebut SMP Islam Al-Azhar 1 akan lebih mengedepankan profesionalisme dalam bekerja dan mengabdi. Al Azhar ke depan tetap harus mengukir sejarahnya dan ini merupakan tanggung jawab kita semua sebagai umat Islam.

Pada tahun pelajaran 2013/2014 SMP Islam Al-Azhar 1 dipercaya menjadi Pilot Project Kurikulum 2013 bersama dengan SMP Islam Al-Azhar 10 Kembangan dan SMP Negeri 115 Jakarta. Sebagai komitmen atas penerepan Kurikulum 2013, maka sebanyak 11 guru mata pelajaran dari SMP Islam Al-Azhar 1 dikirim ke Bandung untuk mengikuti workshop kurikulum 2013 se-Indonesia angkatan pertama.

Perkembangan mutakhir, di tahun pelajaran 2018/2019 SMP Islam Al Azhar 1 menyelenggarakan Sistem Kredit Semester untuk peserta didik kelas VII. Penyelenggaraan SKS menggantikan Sistem Paket dimaksudkan dalam upaya pencapaian visi, misi dan tujuan pendidikan di SMP Islam Al Azhar 1, serta pengembangan kurikulum agar lebih fleksibel, berkeunggulan, maju berkelanjutan dan lebih berkeadilan untuk peserta didik sesuai dengan kecepatan belajarnya.

SMP Islam Al Azhar 1 Kebayoran Baru genap memulai angkatan ke-50. Di usia yang semakin matang, SMP Islam Al Azhar 1 Kebayoran Baru berkomitmen teguh membentuk pribadi yang kokoh akidah, unggul prestasi, dan luhur prilaku. Sinergi para guru untuk terus menggali wawasan mengajar dan inovasi layanan pendidikan, telah menjadikan sekolah kami menjadi yang terdepan dalam penggunaan teknologi, murid yang berwawasan global, berprestasi dan berakhlakul karimah.